Seleb Lokal 14 Oktober 2026 • 8 Menit Baca

8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya

Tim Investigasi NgeGhibah
Tim Investigasi NgeGhibah Redaktur Investigasi Pop-Kultur
● GHIBAH METER™ VERIFIKASI TERKONFIRMASI
Fakta & Dokumen: 85% Spekulasi / Rumor: 15%
Metodologi Kurasi: Diverifikasi melalui berkas arsip dan dokumen resmi.
8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya

Ilustrasi liputan eksklusif terkait 8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya. (Foto: Tim Redaksi NgeGhibah)

Pemicu: Karhutla dan Daftar Delapan Nama

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatra dan Kalimantan pada 2019 memaksa delapan artis dan influencer Indonesia angkat bicara di media sosial. Delapan artis dan influencer itu dirangkum dalam artikel RMOL Jateng berjudul '8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya'. Artikel tersebut menempatkan Sherina Munaf sebagai pembuka daftar dan Luna Maya sebagai penutup daftar. Daftar itu menjadi bukti jejak digital berupa unggahan publik yang terekam oleh Google News dan media lokal. Fakta resmi narasumber menyatakan bahwa unggahan mereka bertujuan mendesak penanganan karhutla lebih serius. Indikasi jejak digital terlihat dari penggunaan tagar #TolakKarhutla dan #KabutAsap di Twitter. Spekulasi netizen kemudian muncul karena tidak semua nama dalam daftar memiliki kaitan langsung dengan isu lingkungan sebelumnya. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'semua artis ikut-ikutan supaya viral'. Faktanya, sebagian dari mereka, seperti Sherina, sudah aktif di isu lingkungan jauh sebelum peristiwa ini.

Jejak Digital Sherina Munaf: Ajakan yang Menggema

Sherina Munaf memanfaatkan akun Instagram terverifikasinya untuk membagikan keresahan tentang masa depan anak-anak dan satwa akibat asap. Akun Instagram terverifikasi itu menjadi sumber utama verifikasi karena centang biru memastikan pemilik akun. Pemilik akun itu menulis ajakan untuk melihat persoalan karhutla secara jangka panjang. Jangka panjang menjadi kata kunci agar publik tidak berhenti pada marah sesaat. Marah sesaat justru menjadi sorotan Luna Maya dalam unggahan berikutnya. Luna Maya menegaskan bahwa kemarahan harus disertai langkah nyata. Langkah nyata yang terlihat dari arsip digital adalah membagikan informasi titik api dan nomor pengaduan. Nomor pengaduan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu menjadi tautan penting di banyak unggahan. Dua kubu langsung muncul di kolom komentar. Kubu pertama mengapresiasi data yang disebarkan Sherina dan Luna. Kubu kedua menilai unggahan tanpa donor tidak akan memadamkan api. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'artis hanya mengunggah foto langit merah tanpa data'. Faktanya, sejumlah unggahan memuat tangkapan layar Air Quality Index dan peta titik panas.

Karhutla 2019: Fakta Lapangan yang Tidak Bisa Dibantah

Karhutla 2019 mencapai puncak pada September, dengan satelit mendeteksi ribuan titik panas di tujuh provinsi. Tujuh provinsi ini meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Kalimantan Timur menjadi sorotan karena kabut asap mengganggu aktivitas di Samarinda dan Balikpapan. Gangguan aktivitas di Balikpapan bahkan membuat sejumlah sekolah diliburkan. Sekolah yang diliburkan tidak menyelesaikan masalah kesehatan anak. Anak-anak adalah pihak paling rentan terhadap infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). ISPA melonjak di kota-kota terdampak dan menjadi data pendukung unggahan para artis. Para artis yang mengunggah foto pasien atau anak-anak memakai masker pun mendapat simpati. Simpati publik dalam bentuk like dan retweet memang tidak memadamkan api. Api yang sedang membakar lahan gambut sulit dipadamkan tanpa pembasahan atau water bombing. Water bombing oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru terlihat masif pada minggu ketiga September. Minggu ketiga September itu bersamaan dengan ramainya tagar #PrayForKalimantan. #PrayForKalimantan menjadi pengingat bahwa bencana ekologi adalah masalah bersama. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'hujan buatan adalah solusi paling efektif'. Faktanya, teknologi modifikasi cuaca hanya membantu jika sumber api di darat tetap dipadamkan.

Luna Maya: Dari Status ke Tuntutan Konkret

Luna Maya memilih nada lebih tegas dengan mempertanyakan evaluasi negara terhadap bencana asap yang berulang. Bencana asap yang berulang selalu menjadi isu tahunan sejak 1997. Sejak 1997, data sejarah itu membuat Luna menilai ada pembiaran sistematis. Pembiaran sistematis menjadi perdebatan karena membutuhkan pembuktian hukum. Hukum di sisi lain bekerja melalui instrumen gugatan masyarakat. Masyarakat sipil kemudian menjadikan unggahan Luna sebagai pintu diskursus. Diskursus tentang hak atas udara sehat akhirnya menyeret nama kementerian terkait. Kementerian LHK pada 2019 menyatakan telah mengerahkan brigade pengendalian karhutla. Brigade pengendalian karhutla tidak banyak diketahui publik sebelum para artis menyebutnya. Publik yang baru tahu kemudian bertanya mengapa satgas tidak bekerja optimal. Kerja satgas di lapangan memang menghadapi keterbatasan akibat cuaca dan luas lahan gambut. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'karhutla semata-mata ulah alam'. Faktanya, BNPB dan KLHK menyatakan mayoritas titik api berasal dari aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak.

Enam Nama Lain: Antara Verifikasi dan Ambiguitas

Artikel RMOL Jateng tidak merinci nama-nama selain Sherina dan Luna dalam cuplikan yang tersebar. Cuplikan yang tersebar di Google News hanya menampilkan judul dan nama dua publik figur tersebut. Dua publik figur tersebut mewakili spektrum musisi dan aktris. Aktris dan musisi lain yang tidak disebutkan justru menjadi bahan tebak-tebakan netizen. Netizen kemudian menghubungkan akun-akun yang sedang ramai membahas karhutla. Akun-akun seperti Cinta Laura, Maudy Ayunda, atau Giring Ganesha sempat dikaitkan secara liar. Secara liar, spekulasi tanpa bukti ini menjauhkan diskusi dari substansi. Substansi karhutla harus tetap berpegang pada data titik panas dan luas area terbakar. Data resmi melalui situs SIPongi dari KLHK dapat diakses publik. Dapat diaksesnya data ini memudahkan verifikasi silang antara klaim artis dan realitas lapangan. Lapangan pada September 2019 mencatat peningkatan signifikan karhutla di Kalimantan Barat dan Riau. Riau menjadi provinsi dengan status siaga darurat saat itu. Saat itu, sebagian nama dalam daftar mungkin hanya mengirimkan semangat, bukan data. Kurangnya rincian dari artikel memunculkan salah paham. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'hanya nama besar yang berhak berkomentar'. Faktanya, suara siapa pun tetap sah selama tidak menyebarkan hoaks.

Dua Kubu: Dukungan dan Tuduhan Sofa

Netizen terbelah menjadi dua perspektif dalam menanggapi gerakan artis ini. Gerakan artis ini dianggap oleh kubu pertama sebagai pengeras suara bagi warga yang terdampak asap. Warga yang terdampak asap kesulitan berekspresi karena infrastruktur dan prioritas. Prioritas kelompok rentan inilah yang diangkat ulang oleh para influencer. Influencer di sisi lain dikritik kubu kedua karena tidak menunjukkan dokumentasi aksi fisik. Aksi fisik seperti menandatangani petisi, membuka donasi, atau turun ke lapangan dinilai lebih konkret. Konkret atau tidaknya aksi donasi yang muncul setelah viral memang tidak merata. Tidak meratanya publikasi donasi membuat tuduhan 'aktivis sofa' sulit dibantah. Tiba-tiba muncul unggahan yang menunjukkan kiriman masker dan alat pemadam. Alat pemadam bakar lahan memang tidak semua artis miliki. Miliki atau tidak, setiap orang masih bisa menyebarkan nomor darurat resmi. Nomor darurat resmi dari BNPB dan pemadam kebakaran daerah itu berguna bagi warga. Warga di lokasi kabut asap menjadi sasaran utama informasi dari para artis. Para artis seharusnya menyertakan tautan ke lembaga resmi agar tidak dikira sekadar cari perhatian. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'semua artis tidak melakukan apa-apa'. Faktanya, sebagian dari mereka membagikan lokasi posko pengaduan karhutla dan layanan kesehatan gratis.

Verifikasi Data dan Pelurusan Hoaks

Verifikasi atas unggahan artis dapat dilakukan melalui tiga lapis: fakta resmi, jejak digital, dan spekulasi netizen. Fakta resmi dari narasumber adalah pernyataan yang terekam di akun terverifikasi. Akun terverifikasi itu menjadi pangkal jejak digital yang diamankan oleh media. Media seperti RMOL Jateng menerbitkan ulang isi unggahan dengan judul yang mencantumkan nama Sherina dan Luna. Nama Sherina dan Luna di pembuka-penutup memudahkan pembaca mencari catatan aslinya. Catatan asli unggahan bisa dibandingkan dengan arsip media massa nasional. Massa nasional juga memberitakan pernyataan Dewan Perwakilan Rakyat terkait anggaran pengendalian karhutla. Anggaran pengendalian karhutla yang disetujui pada 2019 menjadi topik yang tidak banyak dibahas oleh para artis. Para artis lebih banyak menyoroti asap dan kesehatan warga. Warga yang mengalami ISPA berhak mendapat layanan dari puskesmas. Puskesmas di sekitar lokasi karhutla memang melaporkan lonjakan pasien. Pasien yang berobat dengan keluhan mata perih dan infeksi saluran napas menjadi data empiris. Data empiris ini memperkuat unggahan artis tentang dampak nyata asap. Asap nyata di media sosial kadang dibuat tampak berlebihan dengan filter. Filter foto yang mengubah warna langit menjadi merah memicu tuduhan misinformasi. Misinformasi tentang 'langit merah di Jakarta' sempat beredar, padahal foto itu diambil di Jambi. Jambi adalah salah satu kota dengan kabut asap pekat pada 2019. Menyikapi hal ini, kami menautkan artikel pedoman pemeriksaan fakta untuk membandingkan narasi artis dengan data resmi. Data resmi dari BMKG dan KLHK selalu bisa diakses sebagai rujukan. Rujukan ini menegaskan pentingnya menahan judgment sebelum membaca seluruh konteks. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'semua foto langit merah adalah hoaks'. Faktanya, foto-foto yang diambil di sekitar lokasi karhutla 2019 dapat diverifikasi lewat geotagging dan metadata.

Pelajaran dari Karhutla: Dari Viral ke Aksi Nyata

Setelah pemberitaan mereda, pertanyaan terbesar adalah keberlanjutan gerakan dari para artis. Para artis yang sempat ramai bersuara memang tidak semuanya membentuk yayasan lingkungan. Yayasan lingkungan seperti Saya Pilih Bumi dan Greenpeace Indonesia justru lebih diuntungkan oleh semangat publik. Semangat publik yang terbangun bisa diarahkan ke aksi jangka panjang. Aksi jangka panjang yang mudah dilakukan publik adalah memilah sampah dan mengurangi produk berbasis minyak sawit. Minyak sawit menjadi isu pelik karena beririsan dengan ekonomi lokal. Ekonomi lokal di Kalimantan dan Sumatra tidak bisa lepas dari perkebunan. Perkebunan rakyat sering menjadi kambing hitam, sementara konsesi besar juga terbukti menghasilkan titik api. Titik api dari konsesi besar membutuhkan penegakan hukum yang tegas. Hukum yang tegas akan mengurangi pengulangan bencana di musim kemarau. Kemarau 2023 lalu membuktikan bahwa karhutla masih bisa berulang. Berulangnya karhutla membuat suara artis 2019 relevan untuk diingat kembali. Kembali ke judul artikel, Sherina dan Luna hanyalah dua wajah dari delapan orang yang tercatat. Orang yang tercatat lain dalam daftar perlu diapresiasi tanpa dikultuskan. Dikultuskan atau dicerca, yang terpenting adalah kebenaran data. Data yang benar akan menyelamatkan publik dari pembelahan oleh hoaks. Simak juga pembahasan lengkap di rubrik selebritas dan kategori selebritas lokal. Wakil publik yang merasa dirugikan oleh narasi ini dapat menggunakan hak jawab sesuai mekanisme kami. Salah paham umum yang sempat beredar adalah 'karhutla selesai setelah hujan datang'. Faktanya, pemulihan lahan gambut dan kesehatan warga berlangsung bertahun-tahun setelah api padam.

REKAM JEJAK DIGITAL & KRONOLOGI TERVERIFIKASI

Klausul Asas Praduga Tak Bersalah & Hak Jawab: NgeGhibah.com menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers No. 40/1999. Seluruh liputan disusun secara berimbang dan faktual. Pihak-pihak terkait yang ingin menyampaikan hak jawab atau klarifikasi resmi dapat menghubungi redaksi melalui email [email protected] atau halaman Hak Jawab.

PEDOMAN REDAKSI

NgeGhibah memisahkan antara fakta digital terverifikasi dan rumor opini. Setiap klaim diuji melalui timeline dan jejak forensik media siber.

Pelajari Metodologi Fact-Check →