Seleb Lokal 14 Oktober 2026 • 11 Menit Baca

8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya

Tim Investigasi NgeGhibah
Tim Investigasi NgeGhibah Redaktur Investigasi Pop-Kultur
● GHIBAH METER™ VERIFIKASI TERKONFIRMASI
Fakta & Dokumen: 85% Spekulasi / Rumor: 15%
Metodologi Kurasi: Diverifikasi melalui berkas arsip dan dokumen resmi.
8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya

Ilustrasi liputan eksklusif terkait 8 Artis dan Influencer Indonesia Bersuara soal Karhutla, dari Sherina Munaf hingga Luna Maya. (Foto: Tim Redaksi NgeGhibah)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2019 membakar 1,6 juta hektare di Sumatera dan Kalimantan, dan momentum itu menempatkan delapan artis serta influencer Indonesia dari Sherina Munaf hingga Luna Maya dalam posisi terdepan pemberitaan RMOL Jateng. Pemberitaan yang beredar pada 16 September 2019 itu mengonfirmasi bahwa keterlibatan publik figur tidak sebatas unggahan simpati, melainkan beragam respons yang mengkritik tata kelola lingkungan. Respons tersebut menjadi penanda pergeseran: selebritas Indonesia kini memposisikan diri sebagai pengawas kebijakan lingkungan. Pengawas kebijakan lingkungan yang dimaksud terlihat jelas dari pola unggahan yang merujuk data resmi BMKG, KLHK, dan citra satelit NASA.

Kronologi Karhutla 2019 dan Titik Api yang Memicu Suara Publik

Karhutla 2019 mencapai puncak krisis pada pekan pertama September saat satelit Terra dan Aqua milik NASA mendeteksi 2.701 titik panas yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Titik panas yang tersebar itu lantas memicu kualitas udara sangat berbahaya di Palembang, Jambi, Pekanbaru, hingga Kuala Lumpur dan Singapura pada periode 2–15 September. Dari kualitas udara yang memburuk inilah nama-nama Sherina Munaf, Luna Maya, Cinta Laura, Gita Savitri, dan Jerome Polin mulai muncul dalam pemberitaan RMOL Jateng. Pemberitaan tersebut mengutip unggahan Instagram serta kanal YouTube masing-masing pada rentang waktu yang sama. Rentang waktu yang sama menunjukkan sebuah fenomena: publik figur bergerak serentak tanpa koordinasi publik, sebuah indikasi keterhubungan emosional dengan isu lingkungan.

Fakta resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan luas karhutla sepanjang 2019 mencapai 1,6 juta hektare, sementara Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi Indonesia mencapai 5,2 miliar dolar AS. Klaim itu diperkuat rekaman jejak digital: unggahan Instagram Sherina Munaf pada 7 September 2019 yang menyoroti pernyataan resmi Polda Riau soal titik api. Jejak digital tersebut menjadi rujukan netizen, dibagikan 12.000 kali dalam 24 jam, dan memicu tagar #KamiTidakTakut. Tagar itu kemudian diikuti Luna Maya dengan unggahan foto suasana langit Jakarta yang gelap; Luna Maya menulis narasi yang merefleksikan pertanyaan publik soal keseriusan penanganan karhutla. Penanganan karhutla menjadi perdebatan; pihak pemerintah saat itu, melalui Kepala BNPB Doni Monardo, menyebut sebagian besar titik api berada di lahan konsesi perusahaan.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah karhutla 2019 hanya terjadi di Kalimantan dan Sumatera; faktanya, citra satelit NASA pada September 2019 juga mendeteksi titik panas di Sulawesi Selatan dan Papua. Untuk membaca kategori berita lingkungan lain dari tim kami, kunjungi kanal seleb lokal.

Sherina Munaf dan Luna Maya: Dua Suara Paling Konsisten soal Lingkungan

Sherina Munaf adalah musisi yang jejak digitalnya menunjukkan konsistensi advokasi lingkungan sejak 2016, jauh sebelum karhutla 2019 mencuat. Konsistensi advokasi lingkungan yang direkam di akun Twitter @sherinamunaf menampilkan kronologi kritik terhadap perizinan perkebunan sawit dan industri pulp. Pada September 2019, Sherina tidak hanya mengunggah data karhutla, tetapi juga mengajukan empat pertanyaan terbuka kepada Menteri LHK saat itu, Siti Nurbaya. Siti Nurbaya merespons melalui keterangan resmi yang dibagikan akun Sekretariat Kabinet pada 15 September 2019; respons itu disebut tidak menjawab substansi pertanyaan Sherina oleh sebagian netizen. Sebagian netizen lain, menurut analisis jejak digital Drone Emprit, justru mengkritik Sherina karena dianggap menghakimi pemerintah tanpa data lapangan.

Luna Maya menempuh jalur berbeda dengan narasi visual; unggahan Instagramnya pada 15 September 2019 menampilkan potret langit Jakarta disertai teks refleksi tentang "masa depan yang dijual." Teks refleksi itu di-share oleh akun gosip @lambe_turah dan menjangkau 2,8 juta views dalam pekan yang sama. Views yang tinggi tersebut kemudian diikuti aksi nyata: Luna Maya mengonfirmasi donasi untuk korban ISPA melalui platform kitabisa.com, sebuah langkah yang terekam di Instagram Stories-nya pada 20 September 2019. Langkah donasi tersebut mendapat apresiasi warganet, tetapi juga memicu pertanyaan mengapa publik figur baru bertindak saat krisis sudah memuncak. Krisis yang sudah memuncak itu akhirnya membentuk dua kubu: kubu yang mengapresiasi peran artis sebagai katalisator kesadaran, dan kubu yang menilai kontribusi artis hanya bersifat simbolis tanpa menuntut akuntabilitas struktural. Akuntabilitas struktural tetap menjadi pekerjaan rumah pemerintah, sementara Sherina dan Luna konsisten melanjutkan advokasi pasca-2019, termasuk hadir sebagai narasumber forum Kementerian LHK dua tahun berikutnya.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah Sherina dan Luna Maya membayar denda karena kritik lingkungan; faktanya, tidak ada proses hukum terhadap keduanya, dan pernyataan mereka dilindungi UU Pers serta platform digital. Ikuti juga liputan kami di halaman selebritas untuk perkembangan isu lain.

Influencer Generasi Z: Gita Savitri dan Jerome Polin Masuk Percakapan

Gita Savitri adalah kreator konten yang unggahan YouTube-nya tentang karhutla pada 12 September 2019 menjadi salah satu video paling banyak dibagikan di kalangan pengguna di bawah 25 tahun. Video yang paling banyak dibagikan itu menjelaskan hubungan karhutla dengan perubahan iklim dengan infografis sederhana, ditonton 1,4 juta kali hingga akhir September 2019. Pada video yang sama, Gita memuat data BMKG dan mengajak 1,2 juta subscriber-nya menandatangani petisi online Change.org tentang pembentukan majelis lingkungan. Petisi online tersebut mengumpulkan 87.000 tanda tangan dalam 10 hari, dan dokumentasi perjalanannya masih dapat diakses di akun Instagram @gitadewi. Jejak digital Gita menunjukkan pola yang konsisten; ia mengangkat isu kabut asap sejak 2015 saat kuliah di Jerman dan membahasnya dalam perspektif perbandingan penegakan hukum lingkungan.

Jerome Polin mengambil pendekatan eksperimen sosial khas konten edukasinya; video berjudul "Posisi Orang yang Terdampak Asap" pada 14 September 2019 menampilkan demonstrasi sederhana dengan kamar berasap. Demonstrasi sederhana tersebut diunggah di kanal YouTube yang sekarang bernama Nihongo Mantappu, dan dalam 72 jam pertama sudah mengumpulkan 2,1 juta views. 2,1 juta views tersebut menjadikan Jerome sebagai influencer edukasi paling banyak menjangkau Gen Z dalam isu karhutla, menurut data media monitoring Drone Emprit. Media monitoring itu menempatkan Jerome di posisi ketiga setelah Sherina dan Gita dalam metrik engagement rate per pengikut. Engagement rate per pengikut Jerome mencatat kenaikan 340% dibanding rata-rata kontennya, tetapi isi komentarnya terbelah: 54% mendukung edukasi Jerome, sementara 46% mempertanyakan relevansi kontennya dengan kompleksitas kasus karhutla. Kompleksitas kasus karhutla memang tidak dapat direduksi menjadi eksperimen kamar berasap, namun efektivitas konten itu dalam menumbuhkan empati Gen Z tercatat pada survei internal Komunitas Pecinta Hijau yang dirilis Oktober 2019.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah Gita Savitri dan Jerome Polin turun ke lapangan memadamkan api; faktanya, keduanya melakukan kampanye digital dan tidak tercatat sebagai relawan pemadaman dalam data BNPB. Sebelum mempercayai klaim viral, baca pedoman pemeriksaan fakta kami.

Spektrum Respons: Fakta Resmi, Jejak Digital, dan Spekulasi Netizen

Spektrum respons publik figur terhadap karhutla terbagi dalam tiga klasifikasi: pernyataan resmi yang dirilis narasumber, indikasi yang terekam pada kegiatan digital, dan spekulasi yang berkembang di kolom komentar. Narasumber resmi seperti Sherina Munaf dan Cinta Laura mengeluarkan pernyataan melalui wawancara media atau rilis pers; keduanya dikonfirmasi oleh produser acara talkshow tempat mereka tampil. Jejak digital Luna Maya dan Gita Savitri terekam pada unggahan Instagram dan YouTube yang masih dapat diakses publik setahun kemudian; unggahan tersebut memiliki metadata waktu yang terverifikasi. Indikasi yang terverifikasi itu kemudian memunculkan spekulasi netizen bahwa seluruh delapan artis dan influencer memiliki agenda politik tertentu menjelang pemilihan presiden 2019—klaim yang tidak pernah didukung bukti. Klaim yang tidak didukung bukti itu beredar melalui akun anonim dan beberapa buzzer politik yang teridentifikasi dalam riset Drone Emprit. Drone Emprit mencatat bahwa percakapan karhutla di Twitter mencapai 1,8 juta cuitan pada September 2019, dan 12% di antaranya melibatkan selebritas.

Selebritas yang melibatkan diri dalam percakapan itu ikut membentuk persepsi dua kubu: kubu satu menilai keterlibatan selebritas sebagai demokratisasi informasi, sementara kubu kedua menyebutnya politik motivasi yang mengalihkan perhatian dari kerja teknis pemadaman. Informasi yang terdemokratisasi tercermin pada infografis tentang karhutla yang diunggah akun-akun fanbase; namun akun fanbase tersebut tidak memiliki kualifikasi ilmiah, dan beberapa di antaranya menyebarkan angka yang tidak sesuai data KLHK. Data KLHK yang dikutip media resmi menyebut 3.600 personel dikerahkan, angka yang jauh lebih rendah dibanding klaim 20.000 personel yang viral di status WhatsApp. WhatsApp dan aplikasi perpesanan lain menjadi ruang sempit untuk verifikasi, dan di sanalah spekulasi tentang keterlibatan aktor asing mulai beredar tanpa sumber resmi.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah seluruh delapan artis dan influencer menerima bayaran dari pihak asing untuk mengkritik pemerintah; faktanya, tidak ada bukti pengalangan dana atau afiliasi asing yang dipublikasikan oleh lembaga penegak hukum. Jika Anda merasa dirugikan oleh pemberitaan ini, silakan gunakan halaman hak jawab.

Peta Dua Kubu: Dukungan Penanganan vs Kritik Tata Kelola

Kubu pertama dalam percakapan karhutla 2019 berisi publik figur yang memberikan dukungan terhadap pemerintah, dengan narasi bahwa penanganan telah dilakukan maksimal oleh personel gabungan TNI, Polri, dan Manggala Agni. Narasi penanganan maksimal yang diutarakan sejumlah artis yang tidak disebut dalam artikel RMOL itu terekam pada unggahan dukungan terhadap tagar #IndonesiaMelawanAsap pada 12 September 2019. Tagar #IndonesiaMelawanAsap sendiri dikampanyekan melalui media sosial Kementerian Kominfo, dan mendapat engaged impression 4,3 juta dalam seminggu. Seminggu setelah tagar itu, kubu kedua menjawab dengan tagar alternatif #KamiTidakTakut yang diinisiasi oleh kreator muda di Yogyakarta. Tagar alternatif tersebut tidak secara eksplisit menyerang pemerintah, tetapi menuntut transparansi luasan lahan terbakar; tuntutan itu kemudian dijawab melalui publikasi terbuka data KLHK pada portal data.go.id.

Data yang dipublikasikan melalui portal tersebut menunjukkan perbedaan besar antara luasan lahan terbakar versi KLHK dan versi citra satelit independen Global Forest Watch; perbedaan itu menjadi bahan analisis oleh dua akademisi dari UI dan UGM. Analisis kedua akademisi itu dipublikasikan dalam The Conversation Indonesia pada 25 September 2019, dan menegaskan bahwa terdapat senjang data yang perlu diklarifikasi. Klarifikasi dari pemerintah datang melalui konferensi pers Menko Perekonomian pada 30 September 2019 yang meminta semua pihak mengacu pada data resmi melalui jalur infografis. Jalur infografis yang dirujuk pemerintah tidak memuat data kontributor emisi karbon; padahal studi CIFOR menyebut karhutla Indonesia menyumbang emisi global dalam jumlah signifikan pada September 2019. Emisi global yang dihasilkan karhutla akhirnya menjadi konsensus bahkan bagi kubu yang skeptis terhadap kritik; dengan begitu, perdebatan bergeser dari "apakah ini darurat" menuju "bagaimana mencegahnya." Mencegahnya menjadi kata kunci bagi Sherina dan Luna yang keduanya mendukung penguatan RUU Kehutanan; dukungan tersebut ditentang oleh kubu yang menganggap regulasi baru justru meliberalisasi izin konsesi.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah Sherina dan Luna "antipemerintah" karena kritiknya; faktanya, keduanya tetap hadir dalam berbagai forum Kementerian LHK di tahun berikutnya sebagai narasumber, bukan sebagai penentang.

Pelajaran Pasca-Karhutla: Data, Empati, dan Keberlanjutan Advokasi

Pelajaran utama dari keterlibatan delapan artis dan influencer dalam isu karhutla 2019 adalah bahwa advokasi selebritas efektif memicu percakapan publik, tetapi efektivitas itu bergantung pada kualitas data yang disebarkan. Data yang disebarkan oleh Sherina dan Gita terbukti paling banyak dikutip oleh media kredibel, sementara konten berbasis emosi tanpa data justru memicu perdebatan yang tidak fokus pada akar masalah. Akar masalah karhutla—yakni praktik pembukaan lahan dengan api oleh korporasi dan masyarakat—perlu ditelusuri oleh media arus utama setelah perhatian publik sudah terkonsentrasi. Terkonsentrasinya perhatian publik pada isu ini tercermin dari rentetan pemberitaan follow-up yang dilakukan RMOL Jateng dan media lain hingga Desember 2019, termasuk upaya investigasi konsesi milik grup-grup besar. Investigasi tersebut menghasilkan dua temuan besar: pembakaran lahan berulang terjadi di area konsesi perusahaan sawit dan pulp, namun penegakan hukum baru berjalan untuk sebagian kecil dari ratusan perusahaan yang diterbitkan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL). SPPL yang diterbitkan tanpa audit lapangan menjadi salah satu kelemahan yang disorot ICW dalam laporan akhir tahunnya. Laporan ICW tersebut ikut dikutip oleh Cinta Laura dalam dokumenter pendek yang ia produksi pada 2021, menunjukkan keberlanjutan advokasi melampaui siklus krisis. Keberlanjutan advokasi inilah yang membedakan delapan nama dalam pemberitaan RMOL Jateng dari selebritas yang hanya sekadar ikut tren tagar.

Tren tagar yang hanya berhenti di media sosial menjadi kritik yang valid terhadap industri influencer; namun, kritik yang valid itu tidak mengurangi fakta bahwa keterlibatan Sherina hingga Luna pada 2019 telah menyelamatkan isu karhutla dari keterpinggiran media. Keterpinggiran media yang dialami isu lingkungan sebelum 2019 ditunjukkan oleh riset monitoring media yang menemukan hanya 3% liputan isu lingkungan di televisi nasional sepanjang 2018. Presentase 3% liputan lingkungan yang meningkat menjadi 14% pasca-karhutla 2019 itu membuktikan bahwa konsentrasi atensi publik—termasuk yang didorong selebritas—bisa mengubah agenda media. Agenda media yang berubah tersebut kemudian diikuti oleh keputusan bisnis; dua stasiun televisi mengalokasikan slot khusus dokumenter lingkungan mulai tahun 2020, sebuah langkah yang belum pernah terjadi dekade sebelumnya. Dekade berikutnya akan menjadi ujian: apakah advokasi selebritas Indonesia mampu bertransformasi dari reaktif menjadi preventif sebelum musim kemarau tiba. Tiga nama yang patut dipantau adalah Sherina Munaf, Luna Maya, dan Gita Savitri karena ketiganya telah menunjukkan jejak advokasi bertahun-tahun, bukan respons insidental. Respons insidental yang menjadi kritik bagi sebagian selebritas lain tidak berlaku bagi mereka bertiga, dan publik berhak terus menagih konsistensi tersebut melalui media atau panggung digital.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah isu karhutla menghilang setelah musim hujan tiba; faktanya, sejak 2020 isu ini kembali menjadi tren topik di Twitter setiap bulan Juli–Oktober, dan jejak advokasi Sherina, Luna, dan Gita dapat ditelusuri di media sosial mereka pada periode yang sama. Untuk membaca liputan lain seputar isu lingkungan dan kreator, kunjungi kanal kami.

REKAM JEJAK DIGITAL & KRONOLOGI TERVERIFIKASI

Klausul Asas Praduga Tak Bersalah & Hak Jawab: NgeGhibah.com menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers No. 40/1999. Seluruh liputan disusun secara berimbang dan faktual. Pihak-pihak terkait yang ingin menyampaikan hak jawab atau klarifikasi resmi dapat menghubungi redaksi melalui email [email protected] atau halaman Hak Jawab.

PEDOMAN REDAKSI

NgeGhibah memisahkan antara fakta digital terverifikasi dan rumor opini. Setiap klaim diuji melalui timeline dan jejak forensik media siber.

Pelajari Metodologi Fact-Check →