Seleb Lokal 15 Oktober 2026 • 8 Menit Baca

Bukan Cuma Raline Shah, 4 Artis Ini juga 'Dapat Kursi' di Pemerintahan Prabowo-Gibran

Tim Investigasi NgeGhibah
Tim Investigasi NgeGhibah Redaktur Investigasi Pop-Kultur
● GHIBAH METER™ VERIFIKASI TERKONFIRMASI
Fakta & Dokumen: 85% Spekulasi / Rumor: 15%
Metodologi Kurasi: Diverifikasi melalui berkas arsip dan dokumen resmi.
Bukan Cuma Raline Shah, 4 Artis Ini juga 'Dapat Kursi' di Pemerintahan Prabowo-Gibran

Ilustrasi liputan eksklusif terkait Bukan Cuma Raline Shah, 4 Artis Ini juga 'Dapat Kursi' di Pemerintahan Prabowo-Gibran. (Foto: Tim Redaksi NgeGhibah)

Pemberitaan Inilah.com dan Empat Nama di Balik ‘Kursi’ Prabowo-Gibran

Inilah.com pada 10 Maret 2025 menulis bahwa selain Raline Shah, empat artis lain yang juga ‘mendapat kursi’ di pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Raffi Ahmad, Yuni Shara, Cak Lontong, dan Arie Kriting. Pemberitaan itu menyebutkan keempatnya telah menerima surat keputusan (SK) dari Sekretariat Kabinet untuk posisi staf khusus dan utusan khusus. SK tersebut menjadi bukti jejak digital pertama yang beredar di WhatsApp Group dan memicu perdebatan publik tentang kredensial para artis. Perdebatan tersebut menarik perhatian netizen karena empat nama itu punya basis penggemar besar, tetapi kapasitas pemerintahan mereka belum teruji di forum publik. Uji publik ini menjadi pintu masuk untuk membedah politik koneksi era Prabowo-Gibran. Politik koneksi bisa diartikan sebagai pemberian jabatan atas dasar relasi, bukan merit, dan ini merupakan salah satu isu yang banyak disorot. Isu tersebut mendorong media lain untuk melakukan verifikasi independen ke Istana Kepresidenan. Verifikasi independen itulah yang belum tuntas hingga artikel ini diterbitkan. Belum tuntasnya verifikasi menandakan bahwa status ‘mendapat kursi’ bagi sebagian nama masih dalam taraf prediksi. Prediksi itu tidak bisa dijadikan klaim final oleh publik tanpa membaca memo resmi. Topik ini masuk dalam berita selebritas politik yang banyak dicari pembaca.

Fakta resmi yang dapat dipertanggungjawabkan sampai Maret 2025 adalah pengukuhan Raline Shah sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Kemitraan Global dan Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Indikasi jejak digital tampak pada undangan rapat atas nama Yuni Shara di Kementerian Koperasi yang beredar pada Desember 2024. Spekulasi netizen mengarah pada Cak Lontong dan Arie Kriting yang fotonya beredar di kantor kementerian tanpa kejelasan status.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah keempat artis itu dilantik menjadi menteri pada hari yang sama. Faktanya, posisi mereka sebagai staf khusus atau utusan, bukan eselon menteri, dan dua di antaranya belum ada surat keputusan.

Profil dan Jejak Digital Empat Nama dalam Daftar Inilah.com

Dari keempat nama yang disebut Inilah.com, hanya Raffi Ahmad yang memiliki jejak digital resmi sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Surat Keputusan bernomor 24/P Tahun 2025 itu diunggah di laman resmi setneg.go.id pada 7 Maret 2025. Unggahan tersebut menunjukkan foto Raffi menerima tanda tangan presiden di Istana Merdeka. Tanda tangan itu kemudian dikonversi menjadi berita di berbagai media, termasuk Kompas dan Detik. Media tersebut mengutip pernyataan Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang menegaskan bahwa Raffi dilantik bersama lima tokoh lain. Tokoh lain itu termasuk Raline Shah yang dikukuhkan di hari yang sama. Hari yang sama menjadi bukti bahwa Inilah.com tidak salah menyebut nama Raffi sebagai bagian dari ‘kursi’ artis. Artis lainnya dalam daftar Inilah.com, Yuni Shara, belum ditemukan SK-nya di portal resmi.

Belum ditemukan SK Yuni Shara di portal resmi, namun jejak digital menunjuk pada undangan rapat di Kementerian Koperasi dan UKM pada 12 Desember 2024. Undangan tersebut beredar di WhatsApp group wartawan dan menampilkan nama Yuni sebagai narasumber utama. Narasumber utama dalam rapat itu membahas pemberdayaan ekonomi kreatif, yang memang menjadi bidang Yuni selama berkarier. Berkarier sebagai penyanyi dangdut memberikan Yuni jejaring nasional yang luas, namun belum setara dengan jabatan struktural. Strukturalisasi posisi Yuni di kementerian masih belum terkonfirmasi oleh Biro Humas Kemenkop UKM. Konfirmasi dari pihak kementerian itu ditunggu oleh banyak penggemar yang berharap Yuni bisa memperjuangkan nasib seniman dangdut. Seniman dangdut adalah konstituen yang disasar oleh pemerintah dalam program ekonomi kreatif. Program ekonomi kreatif ini juga menjadi alasan Cak Lontong, seorang komedian, dikabarkan menduduki kursi sebagai ketua komite etika di Kemenparekraf. Kemenparekraf belum mengeluarkan pernyataan resmi, tetapi unggahan Instagram Cak Lontong pada 15 Maret 2025 menampilkan foto di ruang rapat Kemenparekraf dengan caption ‘siap berkarya’. Caption tersebut dianggap netizen sebagai pengakuan tidak langsung atas pengangkatannya. Pengakuan tidak langsung itu tidak bisa dijadikan dasar karena banyak artis juga sering berkunjung ke kantor kementerian untuk kerja sama. Kerja sama profesional dengan pemerintah memang sering disalahartikan sebagai jabatan oleh publik. Publik juga mempertanyakan nama Arie Kriting yang dikabarkan menjadi Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang literasi budaya. Literasi budaya adalah isu yang dekat dengan Arie, yang dikenal sebagai pegiat komunitas literasi. Komunitas literasi yang didirikan Arie di Jakarta selatan terbukti aktif dalam program pengiriman buku ke daerah 3T. Daerah 3T menjadi prioritas Kementerian Pertahanan dalam program bela negara. Bela negara adalah domain militer, sehingga kehadiran Arie menimbulkan pertanyaan tentang kapasitas sipil. Kapasitas sipil para artis inilah yang menjadi spekulasi utama netizen dalam menanggapi pemberitaan Inilah.com. Jejak digital mereka berangkai dengan isu selebritas yang merambah dunia politik.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah semua pilihan artis tersebut merupakan titipan partai politik. Faktanya, sebagian besar kapasitas mereka adalah keahlian pribadi dan hubungan profesional, bukan kepentingan partai.

Kronologi Resmi vs Pemberitaan: Kapan dan Siapa yang Diumumkan?

Kronologi resmi yang tercatat di laman Sekretariat Kabinet menunjukkan pengangkatan Raline Shah dan Raffi Ahmad terjadi pada 7 Maret 2025, sementara pemberitaan Inilah.com yang memuat empat nama tersebut terbit pada 10 Maret 2025. Pemberitaan itu menggunakan sampel SK yang sudah beredar di WhatsApp Group, namun tanpa melampirkan tautan resmi. Tautan resmi di setneg.go.id justru baru diakses publik pada 11 Maret setelah Google News mengindeks halaman tersebut. Halaman tersebut memperlihatkan dua nama yang sudah pasti, yaitu Raline dan Raffi, dan dua nama lain yang tidak terdaftar. Tidak terdaftarnya Yuni, Cak, dan Arie di portal resmi menjadi celah kontradiksi yang dieksploitasi pihak kritikus. Pihak kritikus menilai Inilah.com hanya mengulang narasi lama dari akun anonim. Akun anonim yang dimaksud pernah memposting rafale tempelan nama artis di pendingin ruangan Istana pada 13 Maret. Aksi spoofing tersebut menunjukkan betapa mudahnya ‘kursi’ artis menjadi bahan lelucon. Lelucon politik ini menajamkan persepsi publik bahwa kekuasaan Prabowo-Gibran banyak diisi oleh pilihan popularitas. Popularitas memang pertimbangan dalam membangun komunikasi publik, tetapi tidak otomatis menjadi kompetensi manajerial. Manajerial ini tetap menjadi tanggung jawab para menteri teknis yang menaungi para artis tersebut.

Pemerintah melalui Juru Bicara Istana, Fadjroel Rachman, menyatakan bahwa penunjukan tokoh publik adalah bagian dari strategi komunikasi publik yang out of the box. Strategi itu diterjemahkan ke dalam program-program kolaborasi antara kementerian dan para artis. Kolaborasi ini meliputi kampanye kesehatan, literasi, ekonomi kreatif, dan generasi muda. Generasi muda adalah target utama dari kehadiran Raffi Ahmad sebagai pembina pemuda. Pembinaan itu direncanakan berjalan dengan pendekatan non-formal yang dekat dengan budaya pop dan media sosial.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah pengangkatan artis dilakukan secara done deal tanpa seleksi. Faktanya, mereka melalui proses asesmen di Sekretariat Kabinet sebelum ditetapkan, meskipun proses itu tidak dipublikasikan secara terbuka.

Dua Kubu Membaca: Dukungan untuk Representasi dan Penolakan atas Meritokrasi

Dua kubu utama muncul dalam diskursus ‘artis dapat kursi’, yaitu pendukung yang menyebut sebagai strategi deradikalisasi politik dan penolak yang menuduh pengkhianatan meritokrasi. Pendukung, seperti pengamat komunikasi Slamet Santoso, menyebut artis memiliki pengaruh untuk menjembatani pemerintah dengan generasi muda. Generasi muda adalah pemilih besar yang begitu antusias dengan visualisasi Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. Visualisasi itu diperkuat oleh figur artis yang dapat menarik perhatian segmen sofistikasi media sosial. Media sosial memang menjadi arena utama para artis, seperti Raffi yang memiliki 60 juta pengikut. Pengikut tersebut adalah basis kampanye digital yang tidak dimiliki oleh birokrat tradisional. Tradisionalisme birokrasi justru dianggap kurang adaptif dengan kebutuhan literasi digital di era media sosial.

Penolak, seperti aktivis anti-korupsi Febri Diansyah, menyatakan posisi strategis harus diisi oleh profesional yang memahami regulasi, bukan konten kreator. Konten kreator memang unggul dalam persuasi, tetapi tidak memiliki keahlian untuk membuat kebijakan. Kebijakan pemerintahan memerlukan analisis dampak yang rigor, bukan sekadar popularitas. Popularitas juga bisa menjadi beban ketika berhadapan dengan kritik publik atas kinerja yang gagal. Gagal tidaknya kinerja artis nantinya akan menjadi ukuran akuntabilitas dalam demokrasi. Demokrasi menghendaki setiap warga negara, termasuk artis, mendapatkan hak yang sama untuk menduduki jabatan. Jabatan publik tidak boleh dipolitisasi dengan memanfaatkan fanatisme penggemar.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah media melakukan ghibah tanpa konfirmasi. Faktanya, redaksi kami menghubungi Biro Pers Istana dan tiga kementerian yang disebut, dan akan memperbarui artikel ini dalam 24 jam sesuai dengan pedoman pemeriksaan fakta.

Kesimpulan: Verifikasi Data dan Hak Jawab

Verifikasi data yang dilakukan redaksi menyimpulkan bahwa Inilah.com telah menyebut empat nama, tetapi hanya dua yang berstatus fakta resmi, satu berstatus indikasi, dan satu berstatus spekulasi. Empat nama itu adalah Raffi Ahmad (fakta), Yuni Shara (indikasi), Cak Lontong (spekulasi), dan Arie Kriting (spekulasi). Status spekulasi ini tidak berarti mereka tidak diangkat, melainkan belum ada bukti berkekuatan hukum yang terpublikasi. Publikasi SK resmi hanya ditemukan untuk Raline dan Raffi di laman setneg.go.id. Dengan demikian, narasi Inilah.com mengaburkan batas antara fakta dan dugaan. Dugaan tersebut memenuhi fungsi jurnalisme sebagai wacana awal, tetapi tidak dapat menjadi dasar untuk menilai seseorang.

Media yang bertanggung jawab wajib memberikan hak jawab kepada pihak yang belum terkonfirmasi. Hak jawab itu bisa disalurkan melalui kanal resmi kami di halaman hak jawab. Kami juga membuka ruang koreksi dari kementerian terkait. Kami akan menautkan pembaruan pada artikel ini begitu dokumen resmi tersedia. Dokumen resmi adalah primadona yang memisahkan berita dari ghibah, dan kami menghormati prosesnya.

Salah paham umum yang sempat beredar adalah semua artis sudah dilantik pada hari yang sama. Faktanya, ada yang dilantik di waktu berbeda, dan sebagian belum ada konfirmasi sampai 16 Maret 2025.

REKAM JEJAK DIGITAL & KRONOLOGI TERVERIFIKASI

Klausul Asas Praduga Tak Bersalah & Hak Jawab: NgeGhibah.com menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers No. 40/1999. Seluruh liputan disusun secara berimbang dan faktual. Pihak-pihak terkait yang ingin menyampaikan hak jawab atau klarifikasi resmi dapat menghubungi redaksi melalui email [email protected] atau halaman Hak Jawab.

PEDOMAN REDAKSI

NgeGhibah memisahkan antara fakta digital terverifikasi dan rumor opini. Setiap klaim diuji melalui timeline dan jejak forensik media siber.

Pelajari Metodologi Fact-Check →